CT SCAN

Komponen CT Scan

Menurut Bontrager’s (2018) Sistem CT terdiri dari tiga komponen utama  yaitu gantry, komputer, dan operator console. Sistem ini mencakup perangkat komputasi dan pencitraan yang sangat kompleks. Bagian berikut ini memberikan pengantar yang luas untuk topik yang sangat teknis.

Gantry

Gantry terdiri dari tabung sinar-x, detektor array, dan kolimator. Bergantung pada spesifikasi teknis unit, gantry biasanya dapat disudutkan 30 ° ke setiap arah, seperti yang dibutuhkan seperti pemeriksaan  CT kepala atau tulang belakang. Bukaan tengah di gantry adalah aperture. Meja CT (kadang-kadang disebut couchpasien) dihubungkan secara elektronik ke gantry atau gerakan terkontrol selama pemindaian. Anatomi pasien di dalam aperture adalah area yang sedang dipindai pada saat itu.

X-Ray Tube

Tabung sinar-x mirip dengan tabung radiografi umum dalam konstruksi dan operasi. Namun, modifikasi desain sering diperlukan untuk memastikan bahwa tabung mampu menahan kapasitas panas tambahan karena waktu exposure  yang meningkat.

Detektor array

Detektor  padat dan terdiri dari dioda ditambah dengan bahan kristal scintillator (cadmium tungstate atau rare earth oxide ceramic crystals). Detektor solid state mengubah energi sinar-x yang ditransmisikan menjadi cahaya, yang diubah menjadi energi listrik dan kemudian menjadi sinyal digital. Rangkaian detektor mempengaruhi dosis pasien dan efisiensi unit CT.

Kolimator

Kolimasi pada CT penting karena mengurangi dosis pasien dan meningkatkan kualitas gambar. Pemindai CT generasi sekarang umumnya menggunakan satu kolimator-prepatient (pada tabung sinar-x), yang membentuk dan membatasi sinar. Ketebalan slice pada unit CT multidetektor modern ditentukan oleh ukuran pada baris detektor yang digunakan.

Komputer

Komputer CT membutuhkan dua jenis perangkat lunak yang sangat canggih-satu untuk sistem operasi dan satu untuk  aplikasi.

Sistem operasi mengelola perangkat keras, sedangkan aplikasi mengelola preprocessing, rekonstruksi gambar, dan berbagai macam operasi pasca-pengolahan. Komputer CT harus memiliki kecepatan dan kapasitas memori yang besar. Sebagai contoh, pertimbangkan bahwa  satu potongan CT (gambar) dengan matriks 512 × 512, komputer secara bersamaan harus melakukan perhitungan 262.144 matematis per irisan.

Operator Console

Komponen operator console mencakup monitor single atau dual , keyboard, mouse, , tergantung pada sistem . Konsol operator memungkinkan teknolog untuk mengontrol parameter pemeriksaan, yang disebut protokol, dan melihat atau memanipulasi gambar yang dihasilkan. Protokol, yang telah ditentukan atau setiap prosedur, mencakup faktor seperti kilovoltage, milliamperage, pitch, field of view, slice thickness , pengindeksan tabel, rekonstruksi algoritma, dan jendela display. Parameter ini dapat dimodifikasi oleh teknolog, jika diperlukan, berdasarkan presentasi pasien atau riwayat klinis. 

Jaringan dan Pengarsipan

Jaringan workstation komputer, sebuah setup dimana workstation berada di lokasi lain atau digunakan oleh ahli radiologi atau teknolog. Workstation ini mungkin berada dalam departemen pencitraan atau mungkin berada di daerah terpencil dengan transmisi data secara elektronik.

Pengarsipan gambar atau sebagian besar sistem CT melibatkan penggunaan media digital yang tersimpan dalam arsip PACS (picture archiving and communications system). Gambar yang tidak tersimpan pada PACS dapat menggunakan kombinasi optical disk dan hard disk drive atau penyimpanan data berkapasitas tinggi secara permanen. Printer laser juga bisa digunakan untuk mencetak gambar atau penyimpanan hard copy. Interpretasi temuan pemeriksaan umumnya dilakukan oleh radiologis pada workstation beresolusi tinggi.

 Parameter CT Scan

Gambar pada CT Scan dapat terjadi sebagai hasil dari berkas sinar-X yang mengalami perlemahan setelah menembus obyek, ditangkap detektor dan dilakukan pengolahan dalam komputer.  Penampilan gambar yang baik tergantung kualitas gambar yang dihasilkan sehingga aspek klinis dari gambar tersebut dapat dimanfaatkan untuk menegakkan diagnosa.

Pada CT Scan dikenal beberapa parameter untuk pengontrolan eksposi dan output gambar yang optimal (Bushberg,2003). Adapun parameter tersebut adalah :

Slice thickness

Slice thickness adalah tebalnya irisan atau potongan dari obyek yang diperiksa. Nilainya dapat dipilih antara 1 mm – 10 mm sesuai dengan keperluan klinis. Slice thickness yang tebal akan menghasilkan gambaran dengan detail yang rendah sebaliknya dengan slice thickness yang tipis akan menghasilkan gambaran   dengan detail yang tinggi. Slice thickness yang tebal akan menimbulkan gambaran yang mengganggu seperti garis-garis dan apabila slice thickness  terlalu tipis akan menghasilkan noise yang tinggi 

Scan Range

Scan range adalah perpaduan atau kombinasi dari beberapa slice  thickness, yang bermanfaat untuk mendapatkan ketebalan potongan yang berbeda pada satu lapangan pemeriksaan.

Faktor Eksposi

Faktor eksposi adalah faktor-faktor yang berpengaruh terhadap eksposi, meliputi tegangan tabung (KV), arus tabung (mA) dan waktu (s). Besarnya tegangan tabung dapat dipilih secara otomatis pada setiap pemeriksaan (Jaengsri, 2004).

Tegangan tabung (KV) yaitu beda potensial antara tabung katoda dan anoda.  Semakin tinggi awan elektron yang dihasilkan maka akan semakin kuat  menembus anoda sehingga daya tembus yang dihasilkan akan semakin besar.

Arus tabung (mA) yaitu kuat lemahnya arus yang dihasilkan   sinar-X, apabila arus tabung besar maka elektron yang dihasilkan akan semakin besar.

Waktu (s) yaitu lamanya waktu eksposi, sangat berpengaruh terhadap jumlah elektron. mAs berpengaruh terhadap jumlah elektron  dan  kuantitas sinar-X.

Field of View (FOV)

Field of View (FOV) adalah diameter maksimal dari gambar yang akan direkonstruksi.  Besarnya bervariasi dan biasanya berada pada rentang 12 cm  sampai dengan 50 cm.  Field of View (FOV) kecil akan meningkatkan detail gambar (resolusi) karena field of view (FOV) yang kecil mampu mereduksi ukuran pixel, sehingga dalam rekonstruksi matriks hasilnya lebih teliti.

Field of View (FOV) kecil, antara 100 mm sampai dengan 200 mm akan meningkatkan resolusi sehingga detail gambar dan batas objek akan tampak jelas. Field of View (FOV) kecil akan menyebabkan noise meningkat (Nesseth, 2000).

Field of View (FOV) sedang, yaitu 200 mm diharapkan gambar yang dihasilkan memiliki spasial resolusi yang baik, noise serta artefak sedikit.

Field of View (FOV) besar, antara 350 mm sampai dengan 400 mm akan menghasilkan spasial resolusi yang rendah karena pixel menjadi besar akibat dilakukannya magnifikasi.  Field of View (FOV) besar akan menyebabkan noise berkurang dan kontras resolusi meningkat serta dapat dihindari munculnya streak  artifact   (Genant, 1982).

Gantry Tilt

Gantry tilt adalah sudut yang dibentuk antara bidang vertikal dengan gantry (tabung sinar-X dengan detektor). Rentang gantry tilt antara -300 sampai +300. Gantry tilt bertujuan untuk keperluan diagnosa dari masing-masing kasus yang dihadapi.

Pitch

Pitch adalah jangka waktu yang berhubungan dengan suatu kecepatan dan jarak. Pada CT Scan helical, pitch didefinisikan sebagai jarak (mm) pergerakan meja CT Scan selama satu putaran tabung sinar-X.  Pitch digunakan untuk menghitung pitch ratio, yang mana merupakan suatu rasio pada pitch untuk slice thickness/beam collimation.

Saat jarak pergerakan meja selama satu putaran penuh, tabung sinar-X sama dengan slice thickness/ beam collimation, pitch ratio (pitch) yaitu 1:1 atau sederhananya 1. Suatu pitch dengan nilai 1 menghasilkan kualitas gambar terbaik dalam CT Scan helical.  Pitch ditingkatkan untuk meningkatkan volume coverage dan kecepatan proses scanning. Nilai pitch berada dalam range 0 sampai dengan 10, sedangkan pitch faktor antara 1 dan 2.

Rekonstruksi Matriks

Rekonstruksi matriks adalah deretan baris dan kolom dari picture element (pixel) dalam proses perekonstruksian gambar. Rekonstruksi matriks ini merupakan salah satu struktur elemen dalam memori komputer yang berfungsi untuk merekonstruksi gambar.  Pada umumnya matriks yang digunakan berukuran 512x512 yaitu 512 baris dan 512 kolom.  Pada pemeriksaan CT Scan ukuran matriks disesuaikan dengan alat yang tersedia. Rekonstruksi matriks berpengaruh terhadap resolusi gambar.  Semakin tinggi matriks yang dipakai maka semakin tinggi detail gambar yang dihasilkan. (Bushberg, 2003)

Rekonstruksi Algorithma

Rekonstruksi algorithma adalah prosedur matematis yang digunakan dalam merekonstruksi gambar. Penampakan dan karakteristik dari gambar CT Scan tergantung dari kuatnya algorithma yang dipilih. Semakin tinggi rekonstruksi algorithma yang dipilih maka semakin tinggi resolusi gambar yang dihasilkan. Dengan adanya metode ini maka gambaran seperti tulang, soft tissue, dan jaringan-jaringan lain dapat dibedakan dengan jelas pada layar monitor.

Window Width

Window Width adalah nilai computed tomography yang dikonversi menjadi gray scale untuk ditampilkan ke TV monitor. Setelah komputer menyelesaikan pengolahan gambar melalui rekonstruksi matriks dan algorithma maka hasilnya akan dikonversi menjadi skala numerik yang dikenal dengan nama nilai computed tomography.  Nilai ini mempunyai satuan HU (Hounsfield Unit).

Dasar pemberian nilai ini adalah air dengan nilai 0 HU,  jaringan lunak 140 HU sampai dengan 400 HU, untuk tulang mempunyai nilai +1000 HU kadang sampai +3000 HU.  Sedangkan untuk kondisi udara nilai yang dimiliki -1000 HU.  Jaringan atau substansi lain dengan nilai yang berbeda tergantung dari nilai perlemahannya. Jadi penampakan tulang pada monitor menjadi putih dan udara menjadi hitam. Jaringan dan substansi lain akan dikonversi menjadi warna abu-abu bertingkat yang disebut gray scale.  Khusus untuk darah yang semula dalam penampakannya berwarna abu-abu dapat menjadi putih apabila diberi media kontras (Rasad, 2011).

Window Level 

Window Level adalah nilai tengah dari window yang digunakan untuk penampilan gambar. Nilainya dapat dipilih dan tergantung pada karakteristik perlemahan dari struktur obyek yang diperiksa.  Window Level menentukan  densitas (derajat kehitaman) gambar yang dihasilkan. Untuk jaringan lunak 30 HU sampai dengan 40 HU, sedangkan untuk tulang 200 HU sampai dengan 400 HU.

Teknik Pemeriksaan CT Scan Kepala

Letakan pasien pada posisi supine dengan penahan kepala. Pastikan pasien tersebut tidak berrotasi atau miring. Atur meja pemeriksaan sehingga coronal alignment light tepat berada pada pertengahan midcoronal plane. Lakukan topogram. Tentukan lokasi scan dari basis cranii ke vertex. Sudut gantry disesuaikan dengan basis cranii (tulang occipital) (foramen magnum) dan tulang frontal ( roof of orbit) (Ballinger, 2013).

Indikasi umum untuk pemeriksaan CT Scan Kepala dalah sebagai berikut:

Tumor – lesi metastasi,meningioma,glioma Sakit kepala Patologi peredaran darah - cerebrovascular accident(CVA), aneurysm, arteriovenous malformation (AVM) Inflamasi atau infeksi – meningitis , abses Trauma – epidural dan subdural hematoma, fraktur Gangguan degeneratif – brain atrophy Kelainan bawaan, Hidrosefalus, Parameter scan Rentang anatomical scan : Basis cranii hingga ke vertex

Tipe scan : Axial sequential

Lokalisir scan : Anteroposterior atau lateral

kVp                 : 120

mAs                                : 250 otomatis

Field of view                 : 22 cm

Ketebalan irisan scan : 5 mm

Ketebalan irisan recon : 2.5 mm

Kemiringan gantry        : Sejajar dengan basis cranii

Inti recon                         : Medium average Anatomi Otak


Prosedur Pemeriksaan


Perisiapan Alat dan Bahan 

Pesawat CT-Scan

Printer film radiografi

Film radiografi

Hand dan Body starp

Head cleam

Pengganjal kepala

Selimut


Persiapan Pasien

Tidak ada persiapan khusus, hanya saja pasien harus melepaskan benda logam di sekitar kepala agar tidak mengganggu hasil gambaran radiograf. Instruksikan kepada pasien agar tidak selama pemeriksaan berjalan.

Teknik Pemeriksaan

Posisi paien : Posisi pasien supine (head first) dan menempatkan kepala pasien pada head holder. Kedua lemgan di letakkan di samping tubuh.

Posisi Objek :  Tempatkan kepala pasien pada head holder. Atur kepala sehingga MSP kepala sejajar dengan lampu indikator longitudinal dan lampu indikator horizontal setinggi MAE. Kepala di fiksasi dengan head cleam. Central point lampu indikator 3 jari superior kepala. Tubuh pasien di fiksasi dengan body strap agar selama pemeriksaan tidak bergerak. Dan pasien diberi selimut agar lebih nyaman mengingat ruangan pemeriksaan yang ber-AC

Parameter Scaning

Protocol         : Head Routine

Range : Range 1(Basis Cranii sampai Petrosum) Range 2 (Petrosum sampai ke vertek)

Slice thicknes       : Base (5.0 mm) Cerebrm (10.0mm)

Kv         : 130 kVp

mA         : 25

Scan time : 3.4 s

Pitch : 0.55


DAFTAR PUSTAKA

Bruce W. Long. 2016. Merrill’s Atlas  of Radiographic Positioning and Procedure. Volume 2. Edisi 13. Elsevier. USA 

John P. Lampignano. 2018. Radiographic Positioning and Related Anatomy. Edisi 8. Mosby. USA

Rasad, Sjahrir. 2011. Radiologi Diagnostik. Edisi 2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Sherwood, Lauralee. 2011. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi: 6. Terjemahan: dr. Brahm U. Pendit. Editor: dr. Nella Yesdelita. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Netter, Frank H. 2014. Atlas of Human Anatomy. Six Edition. Philadelphia, USA: Saunders Elsevier.

Damasio, Hanna. 2005. Human Brain Anatomy in Computerized Images. Second Edition. New York, USA: Oxford University Press.

Neil R.Sims. 2010. Mitochondria, oxidative metabolism and cell death in strok. Diakses tanggal 22-09-2017 pukul 21:30 WIB

Mergenthaler P. 2004. Pathophysiology of stroke: lessons from animal models.Diakses tanggal 22-09-2017 pukul 21:56 WIB

Sauerbeck LR. 2006. Primary stroke prevention. Diakses tanggal 22-09-2017 pukul 22:17 WIB

Seeram, Euclid. Computed tomography : Physical principles, Clinical applications, and Quality control.3rd ed. Philadelphia , 2009, Saunders Elsevier

T.B Moeller. 2007. Pocket Atlas Of Sectional Anatomy. Volume 1. Edisi 3. Thieme. New York


Bila mana ada kekurangan mohon dikoreksi terimakasih🙏🙏🙏🙏🙏

Comments